Rabu, 16 Mei 2012

JENIS JENIS DELIK


Sumber:
Chazawi, Adami.____.  Pelajaran Hukum Pidana Bagian 1, Penerbit PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
 
A.      Berdasarkan Sistem  KUHP
1.       Kejahatan (Misdrijven)
Kejahatan merupakan perbuatan yang telah dianggap tercela sebelum ada Undang-Undang yang mengaturnya.
2.       Pelanggaran (Overtredingen)
Pelanggaran merupakan perbuatan yang dianggap tercela setelah dimuat Undang-Undang yang mengatur perbuatan tersebut.
No.
Perbedaan
Kejahatan
Pelanggaran
1.
Dalam hal Percobaan
Dapat dipidana
Tidak dapat dipidana
2.
Dalam hal pembantuan
Dapat dipidana
Tidak dapat dipidana
3.
Delik aduan
Ada
Tidak ada
4.
Masa daluarsa
Panjang
Pendek
5.
Dihapusnya hak negara untuk melakukan penuntutan karena telah dibayar secara sukarela denda maksimum sesuai yang diancamkan
Tidak berlaku
Berlaku

B.      Berdasarkan Cara Merumuskannya
1.       Tindak Pidana Formil (Formeel Delicten)
Adalah tindak pidana yang dirumuskan sedemikian rupa sehjingga memberikan arti bahwa inti larangan yang dirumuskan itu adalah melakukan suatu perbuatan tertentu, contohnya pencurian.
2.       Tindak Pidana Materiil (Materieel Delicten)
Adalah tindak pidana yang dirumuskan sedemikian rupa sehjingga memberikan arti bahwa inti larangan yang dirumuskan itu adalah pada menimbulkan akibat yang dilarang, contohnya pembunuhan.
C.      Berdasarkan Bentuk Kesalahannya
1.       Tindak Pidana Sengaja (Doleus Delicten)
Adalah tindak pidana yang dalam rumusannya dilakukan dengan kesengajaan atau mengandung unsur kesengajaan.
2.       Tindak Pidana Tidak Sengaja (Culpose Delicten)
Adalah tindak pidana yang dalam rumusannya dilakukan dengan kesengajaan atau mengandung unsur culpa.
D.      Berdasarkan Macam Perbuatannya
1.       Tindak Pidana Aktif/Positif Atau Tindak Pidana Komisi (Dellicta Commissionis)
Adalah tindak pidana yang perbuatannya berupa perbuatan aktif (positif). Perbuatan aktif (disebut juga perbuatan materiil) adalah perbuatan yang untuk mewujudkannya disyaratkan adanya gerakan dari anggota tubuh orang yang berbuat.
2.       Tindak pidana pasif/negatif  atau tindak pidana omisi (dellicta ommissionis)
Adalah tindak pidana yang perbuatannya berupa perbuatan pasif (negatif) atau pembiaran. Terbagi menjadi dua yaitu:
a.      Tindak pidana pasif murni, yaitu tindak pidana pasif yang dirumuskan secara formil atau tindak pidana yang semata-mata unsur perbuatannya adalah perbuatan pasif.
b.     Tindak pidana pasif tidak murni, yaitu tindak pidana yang pada dasarnya tindak pidana positif, tetapi dilakukan dengan cara tidak berbuat aktif.
E.       Berdasarkan Saat Dan Jangka Waktu Terjadinya
1.       Tindak Pidana Berlangsung Seketika (Aflopende Delicten)
Adalah tindak pidana yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga untuk terwujudnya atau terjadinya dalam waktu singkat.
2.       Tindak Pidana Berlangsung Terus (Voortdurende Delicten)
Adalah tindak pidana yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga untuk terwujudnya atau terjadinya berlangsung dalam waktu lama.
F.       Berdasarkan Sumbernya
1.       Tindak Pidana Umum
Adalah semua tindak pidana yang dimuat dalam KUHP sebagai kodifikasi hukum pidana materiil.
2.       Tindak Pidana Khusus
Adalah semua tindak pidana yang dimuat dalam KUHP sebagai kodifikasi hukum pidana materiil.
G.     Dilihat Dari Sudut Subjek Hukumnya
1.       Tindak Pidana Communia (Delicta Communia)
Adalah tindak pidana yang dapat dilakukan oleh semua orang.
2.       Tindak Pidana Propria ( Delicta Propria)
Adalah tindak pidana yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang berkualitas tertentu.
H.     Berdasarkan Perlu Tidaknya Pengaduan Dalam Hal Penuntutan
1.       Tindak Pidana Biasa (Gewone Delicten)
Yang dimaksudkan disini ialah tindak pidana yang untuk dilakukan penuntutan pidana terhadap pembuatnya tidak disyaratkan adanya pengaduan dari yang berhak.
2.       Tindak Pidana Aduan (Klacht Delicten)
Adalah tindak pidana yang untuk dapatnya dilakukan penuntutan pidana disyaratkan untuk terlebih dahulu adanya pengaduan orang yang berhak mengajukan pengaduan. Terdiri dari 2 macam:
a.       Tindak pidana aduan mutlak, adalah tindak pidana aduan yang setiap kejadian syarat pengaduan harus ada.
b.      Tinda pidana aduan relatif, adalah tindak pidana yang menjadi aduan jika memenuhi syarat tertentu.
I.        Berdasarkan Berat-Ringannya Pidana Yang Diancamkan
1.       Tindak Pidana Bentuk Pokok (Eenvoudige Delicten)
2.       Tindak Pidana Yang Diperberat (Gequalificeerde Delicten)
3.       Tindak Pidana Yang Diperingan (Gepriviligieerde Delicten)
J.        Berdasarkan Kepentingan Hukum Yang Dilindungi
Berdasarkan kepentingan hukum yang dilindungi , maka tindak pidana ini tidak terbatas macamnya. Misalnya tindak pidana terhadap nyawa dan tubuh, tindak pidana terhadap harta benda, tindak pidana pemalsuan, dan masih banyak lagi.
K.      Dari Sudut Berapa Kali Perbuatan Untuk Menjadi Suatu Larangan.
1.       Tindak Pidana Tunggal (Enkelvoudige Delicten)
Adalah tindak pidana yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga untuk dipandang selesainya tindak pidana dan dapat dipidananya pelaku cukup dilakukan satu kali perbuatan saja.
2.       Tindak Pidana Berangkai (Samengestelde Delicten)
Adalah tindak pidana yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga untuk dipandang selesainya tindak pidana dan dapat dipidananya, disyaratkan dilakukan secara berulang.

Tidak ada komentar: